Ketika ‘Harapan” itu Hilang

Kehilangan sebuah harapan adalah kebebasan

Kamu setuju ngga sama kutipan di atas…? Mungkin antimainstream yaa karena khan seringnya kita dimotivasi dengan slogan “never lose hope“.

Secara alami kita menganggap harapan sebagai hal positif, sama seperti halnya kita memaknai kebebasan. Tetapi kutipan ini mengatakan bahwa kehilangan harapan membawa kebebasan. Ini mungkin tampak kontradiktif, tetapi kehilangan harapan bisa jadi penyelamat yang paling tak terduga.

Sisi Gelap Harapan

Harapan memiliki sisi gelap yang berdampak pada jiwa dan pikiran. Harapan adalah bentuk kerinduan yang tidak berkesudahan akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan. “Berharap untuk menaklukkan kecemasan atau depresi”, “Berharap bisa masuk ke perguruan tinggi favorit”, “Berharap untuk menemukan cinta sejati suatu hari nanti”, “Berharap untuk mengatasi masalah yang selama ini membebani”.

Harapan bisa menjadi penjara mental yang ironis hanya dengan intensitas dan dominasi pikiran.

“Melepaskan (Letting Go)”

Melepaskan apa pun yang mendominasi pikiran Kita, termasuk harapan, akan langsung membuat pikiran kita bebas. Membebaskannya untuk memikirkan hal-hal lain seperti betapa cantiknya wajah anak kita, keindahan persahabatan, bahagianya selepas menyelesaikan satu set latihan plank, dan kesederhanaan menikmati makanan.

Kita cenderung kehilangan kesenangan hidup yang kecil ini ketika masalah besar mengambil porsi lebih dari yang seharusnya.

Tapi mengapa Kita melepaskan harapan — sesuatu yang dianggap positif ?

Bagaimana Kehilangan Harapan bisa menjadi bermanfaat ?

Ketika Kita berada di bagian terburuk dari perjuangan, Kita berharap banyak hal akan kembali normal. Semakin buruk keadaan, semakin Kita banyak berharap.

Harapan itu berbahaya ketika ia memaksa Kita bertarung dalam pertempuran yang tidak bisa Kita menangkan. Harapan membuat Kita terus berjuang begitu keras. Tapi berkelahi bukanlah apa yang perlu Kita lakukan. Dalam hidup, sama seperti dalam perang, kita harus tahu kapan harus menyerang, dan sama pentingnya, kita harus tahu kapan harus mundur.

Tidak semua musuh dapat dikalahkan dengan cara konvensional. Saya ingat hari dimana saya dengan sengaja kehilangan harapan dan “menyerah.” Saya berada di dapur, sangat cemas tanpa alasan, dan saya muak dengan pertarungan ini, jadi saya memutuskan untuk berhenti.

Kehilangan harapan berarti saya berhenti berusaha untuk bertarung. Dan itulah cara saya memenangkan perang dan mendapatkan kembali kebebasan mental saya.

Ada sebuah ayat yang sangat indah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah SWT akan membuat segala sesuatunya berjalan baik saat di mana seseorang tidak mengharapkan : “Dan barang siapa yang takut kepada Allah SWT. Dia akan membuat jalan baginya untuk keluar (dari setiap kesulitan). Dan Dia akan memberinya dari (sumber) yang tidak dia harapkan (Al-Qur’an 65: 2-3).

Al-Qur’an juga menyoroti fakta bahwa bantuan datang dengan kesulitan. Jadi, sesungguhnya, dengan setiap kesulitan, ada kelegaan: Sesungguhnya dengan setiap kesulitan ada kelegaan. (Qur’an 94: 5).

Kita harus percaya bahwa Allah SWT pada akhirnya tahu yang terbaik dan memiliki rencana terbaik untuk setiap orang, baik itu untuk saat ini atau di masa yang akan datang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*